Harga Beras Melonjak, Boleh Jadi Akibat Bansos Ugal-ugalan
MyRepublic, Internet Cepat Tanpa Batas
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. (foto : Fairuzul Mumtaz)
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. (foto : Fairuzul Mumtaz)

Harga Beras Melonjak, Senator DIY : “Boleh Jadi Akibat Bansos yang Ugal-ugalan”

MusiNews.id — Harga beras secara nasional merambat naik pasca Pemilu 2024, tembus di angka 18 ribu rupiah. Diantaranya karena pasokan yang berkurang dan permintaan yang tinggi. Di sisi lain, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, Hilmy Muhammad, menyatakan bahwa pemicu lain dari tingginya harga beras boleh jadi karena pemerintah ugal-ugalan dalam mendistribusikan Bantuan Sosial (Bansos) yang tidak sesuai jadwal dan peruntukannya, bahkan cenderung mengabaikan prosedur.

Menurut pria yang akrab disapa Gus Hilmy itu, krisis beras sudah terjadi sejak tahun lalu akibat iklim dan masalah pertanian. Meski demikian, menurutnya, pemerintah sudah melakukan mitigasi. Sayangnya, mitigasi itu dirusak atas nama Bansos ketika masa kampanye pada Pemilu 2024.

“Untuk ketahanan pangan, kita memang perlu banyak evaluasi, apalagi jika ngomong food estate. Tapi kalau kita lihat, krisis ini sudah sejak tahun lalu dan pemerintah sudah melakukan mitigasi. Tapi sayangnya, pemerintah ugal-ugalan dalam membagikan Bansos. Akibatnya, stok di gudang Bulog menipis sebelum waktunya. Ini pemerintah menyalahi manajemen sederhana antara pasokan dan permintaan.” ujar Hilmy Muhammad.

Berita Terkait :   Muncul Pinjol di ITB, DPD RI Dorong LPDP Berinovasi Distribusikan Beasiswa

Jika sesuai jadwal, menurut Gus Hilmy, distribusi Bansos beras regular seharusnya dilakukan setiap bulan atau maksimal tiga bulan. Jadi menurutnya, faktornya tidak semata-mata dari iklim atau pertanian. “Ada faktor lain, ya. Ada kepentingan lain. Padahal pas kampanye kemarin, beras sebagai bagian dari Bansos terkesan murah dan mudah didapat, karena dibagi-bagikan kepada semua elemen masyarakat. Aneh juga kalau beras mahal dan langka sesudah Pemilu.” katanya.

Kekhawatiran lain yang dirasakan Gus Hilmy adalah tingginya harga beras akan memicu harga-harga lainnya akan melonjak. Hal ini akan semakin membebani masyarakat.

Berita Terkait :   Presiden Didesak Hentikan Pemberian Bansos Secara Non Prosedural

“Tidak menutup kemungkinan, imbas dari tingginya harga beras ini akan merambat ke bahan-bahan yang lain, seperti cabai, bawang, daging, dan lain sebagainya. Akibatnya tentu semakin memberatkan daya beli masyarakat.” ungkap sosok yang merupakan Anggota Komite I DPD Republik Indonesia itu.

Dari stok beras yang terkuras, Gus Hilmy meminta pemerintah untuk segera melakukan skema mitigasi, karena ke depan permintaan akan semakin banyak untuk menghadapi Ramadhan dan lebaran.

“Dari data yang kami peroleh, cadangan Bulog terkuras sebanyak 1,32 juta ton. Ini harus segera diatasi. Jangan sampai nantinya masyarakat dibuat sibuk dengan harga-harga bahan makanan pokok, sehingga mereka terganggu dalam menyambut Ramadhan dan lebaran yang seharusnya diisi dengan memperbanyak ibadah.” pungkas Gus Hilmy. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *