Bel sekolah kembali berbunyi setelah libur panjang, menandai dimulainya rutinitas yang sempat terhenti. Senin nanti anak-anak sudah mulai masuk sekolah. Biasanya, setiap awal masuk sekolah usai libur panjang, ada satu ritual kecil yang nyaris selalu terjadi di ruang kelas. Guru berdiri di depan, tersenyum, lalu melontarkan pertanyaan yang terdengar sederhana dan penuh kehangatan : “Liburan kemarin ke mana?”
Pertanyaan itu dimaksudkan sebagai pembuka percakapan, pemecah suasana, sekaligus cara membangun kedekatan antara guru dan murid. Namun, di balik niat baik tersebut, tersimpan sebuah kenyataan yang kerap luput dari perhatian, tidak semua murid punya cerita liburan untuk dibagikan.
Di sudut-sudut kelas, ada murid yang menunduk, ada yang tersenyum kaku, ada pula yang pura-pura sibuk membuka buku. Bukan karena mereka malas bercerita, tetapi karena liburan bagi sebagian anak bukanlah tentang pergi ke pantai, pulang kampung, atau berfoto di tempat wisata.
Liburan bagi mereka adalah hari-hari yang sama seperti sebelumnya, bangun pagi, membantu orang tua, atau sekadar bertahan dengan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Bahkan, bagi sebagian murid, libur sekolah justru menjadi masa paling berat, karena jatah makan di sekolah ikut berhenti.
Pertanyaan ‘liburan ke mana” yang terdengar ringan itu, bisa berubah menjadi beban psikologis. Ia membandingkan tanpa sengaja. Ia menciptakan jarak antara mereka yang punya kisah dan mereka yang hanya punya keheningan.
Anak-anak yang terbiasa makan seadanya, yang orang tuanya bekerja serabutan, atau yang tinggal di rumah sempit tanpa fasilitas memadai, tiba-tiba dihadapkan pada cerita teman-temannya tentang hotel, wahana bermain, dan perjalanan jauh. Di usia yang masih rapuh, perbandingan semacam ini dapat melahirkan rasa minder, malu, bahkan luka kecil yang tidak terlihat.
Sekolah seharusnya menjadi ruang paling aman bagi semua anak, tanpa kecuali. Ruang di mana latar belakang ekonomi tidak menjadi penentu siapa yang berhak bersuara dan siapa yang harus diam.
Namun, tanpa disadari, pertanyaan-pertanyaan normatif yang berangkat dari asumsi kelas menengah, sering kali menyisihkan mereka yang hidup di batas kecukupan. Guru, sebagai figur otoritas dan teladan, punya peran penting untuk lebih peka membaca keragaman realitas sosial murid-muridnya.
Bukan berarti guru harus berhenti membangun komunikasi atau menciptakan suasana akrab. Yang dibutuhkan adalah perubahan sudut pandang. Alih-alih bertanya “liburan ke mana”, guru bisa mengajak murid berbagi hal-hal yang lebih menyeluruh, pengalaman paling berkesan selama libur, hal baru yang dipelajari di rumah, buku atau cerita yang disukai, atau kegiatan sederhana yang membuat mereka senang. Dengan begitu, setiap anak punya peluang yang sama untuk bercerita, tanpa harus merasa kurang atau tertinggal.
Kepekaan semacam ini bukan soal berlebihan atau terlalu sensitif. Ia justru menunjukkan kedewasaan dalam praktik pendidikan. Pendidikan tidak hanya soal transfer pengetahuan, tetapi juga tentang empati, tentang kemampuan melihat dunia dari sudut pandang mereka yang paling rentan. Di negeri dengan ketimpangan ekonomi yang masih nyata, ruang kelas adalah miniatur masyarakat. Apa yang terjadi di dalamnya, mencerminkan bagaimana kita memperlakukan perbedaan di luar sana.
Mungkin benar, bagi sebagian orang, liburan adalah hal yang wajar dan lumrah. Namun bagi sebagian yang lain, makan tiga kali sehari saja sudah merupakan perjuangan. Ketika sekolah kembali dibuka, seharusnya yang dibuka bukan hanya buku pelajaran, tetapi juga kesadaran sosial. Kesadaran bahwa setiap anak datang dengan cerita hidup yang berbeda, dan tidak semua cerita layak dipaksa untuk diceritakan di depan kelas.
Mungkin sudah saatnya ruang kelas tidak hanya menjadi tempat berbagi cerita yang menyenangkan, tetapi juga ruang aman bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan. Mengganti satu pertanyaan sederhana dengan pilihan kata yang lebih terbuka bisa menjadi langkah kecil dengan dampak besar.
Karena pendidikan sejatinya bukan hanya mengajarkan membaca dan berhitung, melainkan juga melatih kepekaan dan empati. Dan dari ruang kelas yang lebih peka itulah, harapan tentang sekolah yang adil dan manusiawi bisa benar-benar tumbuh.










