MusiNews.id, PALEMBANG – Gema solawat dan lantunan ayat suci Al-Qur’an memenuhi ruang utama hingga selasar Masjid Raya Taqwa, Palembang, pada Minggu (5/4/2026). Ribuan masyarakat dari berbagai lapisan tampak memadati masjid bersejarah tersebut untuk menghadiri peringatan 40 hari wafatnya tokoh besar Sumatera Selatan, Almarhum H. Alex Noerdin bin H. M. Noerdin Pandji.
Kehadiran massa yang meluap menjadi bukti tak terbantahkan betapa sosok Gubernur Sumsel dua periode (2008–2018) tersebut meninggalkan jejak mendalam di hati masyarakat. Acara pembacaan Yasin dan Tahlil ini juga dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Sumatera Selatan, H. Cik Ujang, S.H., beserta jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumsel.
Testimoni Wagub Cik Ujang: Sang Arsitek Pembangunan
Dalam sambutannya yang penuh haru, Wakil Gubernur Cik Ujang mengungkapkan rasa kagumnya terhadap dedikasi almarhum. Menurut Cik Ujang, membludaknya jamaah yang hadir bukan sekadar seremonial, melainkan manifestasi dari rasa cinta dan penghormatan tulus warga Bumi Sriwijaya terhadap pemimpin yang telah meletakkan fondasi kemajuan daerah.

“Kehadiran kita semua di sini adalah bukti nyata. Almarhum adalah sosok dengan etos kerja tinggi dan dedikasi yang luar biasa untuk kemajuan daerah ini. Beliau bukan sekadar pemimpin, melainkan arsitek pembangunan modern di Sumatera Selatan,” ujar Cik Ujang di hadapan para jamaah.
Lebih lanjut, mantan Bupati Lahat ini mengenang Alex Noerdin sebagai figur visioner yang mampu melampaui zamannya. Berbagai program pro-rakyat, mulai dari sekolah gratis hingga berobat gratis yang menjadi pelopor di Indonesia, serta keberhasilan membawa ajang olahraga skala internasional seperti SEA Games dan Asian Games ke Palembang, disebut Cik Ujang sebagai warisan abadi.
“Saya pribadi melihat betapa jauh beliau memandang ke depan. Berbagai program manfaatnya masih dirasakan rakyat hingga detik ini. Mewakili Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, kami mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya atas pengabdian tanpa batas almarhum,” tambahnya.

Kehadiran Keluarga dan Tausiah Penyejuk Hati
Di barisan depan, tampak putra sulung almarhum, H. Dodi Reza Alex Noerdin, bersama keluarga besar dan kerabat dekat. Raut ketegaran terpancar dari wajah Dodi Reza saat menyalami satu per satu pelayat yang hadir memberikan doa. Bagi keluarga, dukungan moral dari masyarakat Sumsel merupakan kekuatan utama dalam melewati masa-masa duka ini.
Suasana semakin syahdu dan khidmat ketika penceramah kondang asal Makassar, Ustaz Das’ad Latief, menaiki mimbar untuk menyampaikan tausiah. Dengan gaya bicaranya yang khas—lugas namun sarat makna—Ustaz Das’ad memberikan penguatan spiritual bagi keluarga yang ditinggalkan.
Dalam pesan agamanya, Ustaz Das’ad menekankan pentingnya amal jariyah seorang pemimpin. Ia menyebutkan bahwa kebijakan-kebijakan baik yang memberikan manfaat bagi orang banyak akan terus mengalir pahalanya bagi almarhum meskipun raga telah tiada. Jamaah yang hadir tampak menyimak dengan seksama, tak jarang suasana menjadi hening saat doa-doa dipanjatkan untuk ketenangan almarhum di sisi-Nya.

Warisan yang Tak Terhapus Zaman
Peringatan 40 hari ini seolah menjadi momentum refleksi bagi masyarakat Sumatera Selatan. Alex Noerdin diingat bukan hanya karena gedung-gedung tinggi atau fasilitas olahraga bertaraf dunia di Jakabaring, melainkan karena keberaniannya bermimpi besar untuk mengangkat martabat daerahnya di mata dunia.
Acara yang berakhir menjelang waktu Isya tersebut berlangsung sangat tertib meski dihadiri ribuan orang. Jajaran kepala OPD yang hadir juga menunjukkan bentuk penghormatan terakhir bagi mantan atasan mereka yang telah mendidik banyak kader birokrat di Sumsel.
Hingga acara usai, doa-doa terus mengalir bagi almarhum H. Alex Noerdin. Masyarakat yang pulang meninggalkan masjid membawa pesan yang sama: bahwa jasa sang “Pelopor Sekolah Gratis” itu akan selalu terpatri dalam lembaran sejarah emas Sumatera Selatan. (tri)







