Lewat Literasi Digital, Penyandang Disabilitas Sumsel Didorong Mandiri

MUSINEWS.IDSekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Candradimuka bekerja sama dengan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sumatra Selatan (Sumsel) menggelar seminar literasi digital dan kewirausahaan.

Langkah ini diambil sebagai respons atas masih minimnya penyerapan tenaga kerja dari kelompok penyandang disabilitas di sektor industri formal.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Budi Perkasa Palembang itu, diikuti oleh sekitar 200 pemuda berkebutuhan khusus. Para peserta berasal dari berbagai basis komunitas, termasuk anggota HWDI, Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC), hingga pelajar Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Palembang.

Program edukasi ini mendapatkan dukungan fasilitasi pembiayaan langsung melalui dana hibah dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia.

Pihak penyelenggara berkomitmen memberikan bekal keterampilan praktis, agar para peserta mampu membuka peluang usaha mandiri secara digital.

Dosen Komunikasi STISIPOL Candradimuka, Dr. Budi Santoso, M.Cmn., yang hadir sebagai pembicar utama, menjelaskan bahwa penetrasi internet yang tinggi di Indonesia, harus dimanfaatkan sebagai modal ekonomi. Media sosial kini tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan infrastruktur pasar yang inklusif bagi siapa saja.

“Pengguna internet di Indonesia sangat besar, di mana sebagian besar di antaranya aktif menggunakan aplikasi pesan instan dan media sosial. Potensi digital yang masif ini harus kita manfaatkan agar rekan-rekan disabilitas bisa memasarkan produk dan membangun bisnis dari rumah,” ujar Budi Santoso.

Membuka Ruang Kerja Inklusif Lewat Jalur Entrepreneurship

Selain materi adaptasi teknologi, para peserta dibekali ilmu tata kelola keuangan pada hari pertama bersama Co-Founder sekaligus Chief Finance Kulaku, Aqilah Zainab. Memasuki hari kedua, kegiatan berlanjut pada sesi praktik atau workshop pembuatan produk kuliner sehat berupa pempek dan sosis organik, yang dipandu oleh Casella Husnan Putri, M.Si., seorang penyintas autoimun sekaligus pegiat olahan pangan sehat.

Kabid Bidang Layanan Khusus Kemenpora Republik Indonesia, Styana Djafar, saat meninjau langsung jalannya acara, menyatakan bahwa program ini menjadi ruang diskusi strategis untuk mengurai sumbatan lapangan kerja bagi kelompok berkebutuhan khusus. Kemenpora berharap, alokasi bantuan ini mampu mencetak wirausahawan baru yang tangguh di tingkat regional.

“Seminar ini bertujuan mempercepat kemandirian ekonomi. Kita tahu serapan industri terhadap tenaga kerja disabilitas masih menghadapi tantangan regulasi dan kompetensi yang tinggi di pasar kerja formal. Jalur kewirausahaan adalah solusi yang paling realistis,” kata Styana Djafar, yang saat itu didampingi oleh Kepala Sentra Budi Perkasa Kementerian Sosial RI, Wahyu Dewanto.

Mengikis Stigma Melalui Kemandirian Ekonomi Daerah

Perwakilan dosen STISIPOL Candradimuka, Nopriawan, menambahkan bahwa civitas akademika memiliki beban moral untuk ikut mengikis stigma negatif masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Selama ini, sebagian kelompok masyarakat masih memandang sebelah mata kapasitas produktif warga berkebutuhan khusus.

Melalui transfer pengetahuan kewirausahaan praktis, para peserta diharapkan berani mengaktualisasikan gagasan bisnis mereka ke dalam produk nyata. Ketika rantai ekonomi mandiri ini berjalan, angka pengangguran terbuka di sektor rentan secara bertahap akan berkurang.

Kemandirian ekonomi dinilai menjadi kunci utama bagi kelompok disabilitas untuk mendapatkan pengakuan sosial yang setara. Sinergi antara perguruan tinggi, komunitas, dan kementerian ini diharapkan memicu lahirnya ekosistem usaha mikro yang ramah disabilitas di wilayah Sumsel. (ohs)

Berita Terkait :  Mahasiswa KKNT STISIPOL Candradimuka Gelar Seminar Pemberdayaan Sulaman Angkinan di Sungai Lais

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *