Antisipasi Beban Demografi, Gerakan Sumsel Melawan Osteoporosis Dimulai

MUSINEWS.ID — Persatuan Warga Tulang Sehat Indonesia (PERWATUSI) resmi meluncurkan Gerakan Sumsel Melawan Osteoporosis, di pelataran Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang. Agenda berskala daerah ini, dipadukan dengan senam sehat bersama masyarakat, sebagai stimulan awal kampanye fisik.

Peluncuran gerakan edukasi ini ditujukan sebagai langkah preventif dalam menyikapi bonus demografi nasional, serta menyongsong target Indonesia Sehat.

Pemerintah daerah dan pegiat olahraga rekreasi, memandang perlu adanya kesiapan fisik yang prima, agar kelompok usia produktif saat ini tidak menjadi beban negara di masa mendatang.

Ancaman Produktivitas dan Komparasi Ketahanan Fisik

Acara ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum PERWATUSI (Anita Hutagalung), Ketua Umum Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (Hayono Isman), serta Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Sekretariat Daerah Provinsi Sumsel (Rasyidin Hasan), yang hadir mewakili Gubernur Sumatra Selatan.

Hayono Isman menegaskan bahwa bonus demografi di mana mayoritas penduduk berada di usia produktif, dapat berbalik menjadi masalah bangsa jika aspek kesehatan tulang diabaikan. Generasi muda yang mendominasi struktur kependudukan saat ini, akan memasuki fase usia lanjut pada tahun 2045.

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Republik Indonesia itu, turut menyoroti ketahanan fisik pekerja domestik, yang dinilai masih tertinggal jauh dari beberapa negara pelopor ekonomi di Asia Timur.

“Penduduk usia produktif di China mampu bekerja di atas 10 jam per hari, sementara di Indonesia, durasi kerja 8 jam sudah memicu keletihan mendalam. Di Jepang, Korea, dan China, masyarakat lansia masih tetap produktif karena konsisten menjaga stamina fisik sejak muda,” ujar Hayono Isman.

Osteoporosis atau pengorosan tulang, menjadi salah satu hambatan utama yang memicu disabilitas pada lansia. Penurunan fungsi gerak akibat masalah kepadatan tulang, dinilai berpotensi mengancam keberlangsungan ekonomi nasional secara makro, akibat hilangnya masa produktif warga.

Evaluasi Kurikulum Olahraga di Lingkungan Sekolah

Merespons fenomena gaya hidup minim gerak (sedentary lifestyle), PERWATUSI menyayangkan adanya kecenderungan dari institusi pendidikan formal dan orang tua yang mulai mengesampingkan porsi olahraga anak, demi mengejar nilai akademik teks.

Pola pikir ini dinilai keliru, karena kebugaran fisik justru menjadi stimulus utama pasokan oksigen ke otak, yang membantu mempercepat daya serap belajar siswa.

Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Selatan (Sumsel) berencana mengambil langkah strategis melalui sektor kebijakan pendidikan daerah. Pihak eksekutif akan segera mengoordinasikan instruksi khusus kepada jajaran Kepala Dinas Pendidikan di 17 kabupaten dan kota se-Sumsel.

“Kami akan berkoordinasi agar pihak sekolah mengembalikan penekanan pentingnya aktivitas olahraga. Ini bagian dari langkah preventif terintegrasi, untuk melahirkan generasi muda Sumsel yang sehat sekaligus pintar secara akademis,” tegas Rasyidin Hasan.

Langkah ini dirasa mendesak, mengingat modernisasi alat rumah tangga kini turut mengubah pola aktivitas fisik keluarga urban, termasuk para ibu muda di perkotaan seperti Palembang.

Gerakan fisik yang menurun, membuat kelompok wanita menjadi sektor yang paling rentan terhadap ancaman pengeroposan tulang dini.

Program Terstruktur Turunkan Prevalensi Keropos Tulang

PERWATUSI merupakan organisasi nirlaba yang berafiliasi resmi dengan International Osteoporosis Foundation (IOF). Lembaga ini memusatkan perhatian pada mitigasi penyakit keropos tulang, yang menurut data global disinyalir mengancam 3 dari 5 wanita di seluruh dunia.

Gerakan di tingkat daerah ini merupakan kepanjangan tangan dari Pencanangan Gerakan Nasional Melawan Osteoporosis, yang sebelumnya telah diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Ma’ruf Amin.

Karakteristik penyakit osteoporosis yang sering kali tidak menunjukkan gejala klinis awal (silent disease), membuat program edukasi ini harus digerakkan secara masif dan terstruktur.

Ketua Umum PERWATUSI, Anita Hutagalung, menyatakan komitmennya untuk memperluas jaringan koordinasi hingga ke tingkat dasar di Sumsel. Pihaknya menargetkan pembentukan cabang rintisan di seluruh wilayah kabupaten, termasuk kawasan Musi Banyuasin (Muba), Musi Rawas, dan Musi Rawas Utara.

Penyelenggaraan program ini turut didukung oleh kontribusi sektor swasta seperti PT Kalbe Nutritionals melalui lini produk Entrasol, Bayer melalui produk CDR, serta lembaga nirlaba Purnomo Yusgiantoro Center.

Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu mengubah perilaku kolektif masyarakat menuju pola hidup yang lebih aktif dan sadar kesehatan tulang. (ohs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *