MUSINEWS.ID — Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) terus bergerak cepat membenahi sektor perwasitan nasional, sebelum kompetisi kasta tertinggi bergulir. Sebagai langkah nyata, PSSI menggelar pelatihan penyegaran bertajuk FIFA MA Course di Bogor, Jawa Barat.
Agenda intensif yang berlangsung pada 12 hingga 16 Juli 2025 ini, diikuti oleh 31 wasit dan 46 asisten wasit. Seluruh peserta yang dipanggil, merupakan para pengadil lapangan pilihan, yang dinilai berdasarkan rapor performa mereka sepanjang musim lalu.
Langkah penyegaran ini dinilai krusial, mengingat kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia dijadwalkan segera kick off pada 8 Agustus mendatang. Ketegasan pengadil lapangan menjadi sorotan utama publik sepak bola tanah air, demi meningkatkan nilai kompetisi.
Hadirkan Instruktur FIFA Kelas Dunia
Wakil Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa, mengungkapkan bahwa program pelatihan tahun ini, memiliki bobot materi yang jauh lebih berbobot dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan signifikan tersebut, terlihat dari hadirnya figur instruktur kelas dunia di tengah-tengah peserta.
PSSI menghadirkan Subkhiddin Mohd Salleh, seorang instruktur teknis FIFA kawakan, yang memiliki rekam jejak membimbing perangkat pertandingan hingga babak semifinal FIFA Club World Cup. Kehadirannya memberikan wawasan langsung mengenai standar kepemimpinan laga di kancah global.
“Kursus kali ini menjadi fondasi penting untuk menciptakan wasit yang lebih disiplin dan berkualitas tinggi. Kami ingin setiap pengambilan keputusan krusial di lapangan, memiliki standar internasional yang objektif,” ujar Yoshimi Ogawa.
Evaluasi Sikap dan Dampak Bagi Kualitas Pertandingan
Selain pembekalan taktik posisi dan pemahaman regulasi Law of the Game terbaru, PSSI juga menyoroti aspek psikologis serta ketahanan mental para pengadil. Masalah mental bertanding, kerap menjadi pemicu lahirnya keputusan kontroversial di tengah tekanan suporter.
Ogawa memberikan catatan positif terhadap perkembangan perilaku para wasit Indonesia, yang dinilai mulai menunjukkan perubahan paradigma berfikir. Kedisiplinan personal di luar dan di dalam lapangan, dilaporkan mengalami grafik peningkatan yang cukup baik.
“Meskipun kesalahan individu kadang masih terjadi, kami melihat adanya perubahan sikap nyata di mana mereka kini mampu mendisiplinkan diri sendiri. Ini kemajuan besar untuk mereduksi potensi human error di laga-laga krusial nanti,” tambahnya.
Peningkatan mutu korps berbaju hitam ini, tentu menjadi angin segar bagi klub-klub asal Sumatra Selatan (Sumsel) seperti Sriwijaya FC, yang akan berlaga di kompetisi nasional. Kepemimpinan wasit yang adil dan tegas, dipastikan bakal melahirkan iklim kompetisi yang sehat bagi kemajuan sepak bola daerah. (tri)
Wartawan MusiNews.id yang menyukai olahraga, khususnya sepak bola. Aktif menulis seputar Liga 1, Liga 2, Liga 3, dan Sepak Bola di Sumsel.












