Haji Uma Desak BPH Migas Kaji Larangan Isi BBM Bersubsidi
MyRepublic, Internet Cepat Tanpa Batas
anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) asal Provinsi Aceh, Sudirman. (foto : dpd.go.id)
anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) asal Provinsi Aceh, Sudirman. (foto : dpd.go.id)

Haji Uma Desak BPH Migas Kaji Ulang Larangan Isi BBM Bersubsidi bagi Masyarakat Penunggak Pajak

MusiNews.id, Jakarta — Pemerintah melalui BPH Migas akan menerapkan aturan pelarangan pengisian BBM Besubsidi bagi masyarakat penunggak pajak di Tahun 2024 nanti. Bahkan saat ini, ada provinsi yang telah mulai menerapkan kebijakan tersebut.

Kebijakan ini ditanggapi beragam oleh berbagai pihak dan elemen masyarakat, termasuk dari anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) asal Provinsi Aceh, Sudirman atau populer disapa Haji Uma, pada hari Selasa tanggal 28 November 2023.

“Menurut saya, kebijakan ini disusun tanpa melalui kajian komprehensif, khususnya terkait dampak sosial ekonomi bagi masyarakat kecil. Tentu masyarakat kecil akan sangat dirugikan dan berdampak terhadap ekonomi daerah. Karena itu, kebijakan ini mesti dikaji ulang.” tegas unsur pimpinan PURT DPD RI ini.

Anggota DPD RI yang pada pemilu 2019 lalu mengalahkan raihan suara Jokowi di Aceh ini, mengakui dapat memahami tujuan pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk meningkatkan jumlah pendapatan melalui optimalisasi pajak dan retribusi.

Berita Terkait :   Deklarasi Pemilu Damai, LaNyalla: PSHT Tidak Kemana-mana, Tapi Ada Dimana-mana

Namun menurutnya, formulasi solusi untuk mencapai tujuan tersebut sangat tidak tepat dan bahkan akan menimbulkan masalah baru nantinya. Haji Uma juga menyebut bahwa masyarakat bukan tidak taat pajak, tapi sebagian besar masyarakat saat ini sedang dalam kondisi sulit secara ekonomi.

“Sebagian masyarakat bukan tidak taat pajak, tapi kondisi ekonomi sedang sulit. Jika hal ini tetap diterapkan, akan muncul masalah baru dan membuat kondisi masyarakat kecil semakin sulit secara ekonomi dan berdampak juga bagi ekonomi daerah. Karena itu perlu dikaji ulang dan carikan solusi lain yang lebih tepat.” ujar Haji Uma.

Di sisi lain, sejauh ini pemerintah Aceh memang belum mengeluarkan aturan maupun surat edaran menindaklanjuti kebijakan BPH Migas. Namun dipastikan, kebijakan ini akan diterapkan di Aceh kedepan, tercermin dari pernyataan Abdul Halim, anggota Komite BPH Migas saat berada di Krueng Raya, Aceh Besar pada tanggal 24 November 2023 lalu.

Berita Terkait :   Ketua DPD RI dan Dewan Presidium Konstitusi Rapat Konsolidasi Terkait Maklumat Desakan Sidang MPR

Menyikapi hal itu, Haji Uma berharap dan meminta pemerintah Aceh serta DPR Aceh untuk mengkaji secara menyeluruh dampak sebab akibat dari kebijakan ini, terutama bagi masyarakat kecil. Dia menilai, Aceh mesti mendapat pengecualian untuk mengatur diri sendiri dalam kaitan dengan kebijakan ini. Mengingat Aceh punya kekhususan tersendiri dibawah payung hukum Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh.

“Aceh dengan kekhususannya dibawah payung hukum UU Pemerintah Aceh perlu mendapat pengecualian untuk mengatur dan memiliki kebijakan sendiri dalam konteks penerapan aturan ini.” tutup Haji Uma. (*)

Laporan :
Editor :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *