Palembang Tumbuh, Sungai Musi dan Tantangan Menjaga Keseimbangan Air

Palembang tumbuh bersama air.

Sejak dahulu, Sungai Musi dan jaringan sungai yang menghubungkan berbagai kawasan, menjadi bagian penting dari kehidupan kota. Sungai tidak hanya menjadi jalur transportasi dan sumber kehidupan, tetapi juga bagian dari sistem hidrologi yang menentukan bagaimana air bergerak di wilayah Palembang.

Namun, Palembang hari ini terus berkembang. Permukiman semakin luas, jalan dan infrastruktur bertambah, kawasan ekonomi berkembang, dan lahan terbuka semakin tertekan.

Pertumbuhan tersebut tentu tidak dapat dihentikan. Tetapi ada satu pertanyaan penting yang perlu selalu disertakan dalam setiap pembangunan: bagaimana perubahan kota akan memengaruhi perjalanan air?

Kota yang Terus Membutuhkan Air

Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, berarti kebutuhan air juga meningkat.

Rumah tangga membutuhkan air setiap hari. Perdagangan, jasa, industri, fasilitas publik, dan berbagai kegiatan ekonomi juga membutuhkan pasokan air yang memadai.

Pada saat yang sama, perubahan penggunaan lahan, dapat mengurangi kemampuan lingkungan untuk menyimpan air.

Lahan yang sebelumnya terbuka dan mampu menyerap air, berubah menjadi bangunan, jalan, dan permukaan kedap lainnya. Air hujan kemudian lebih cepat menjadi limpasan.

Pada musim hujan, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap sistem drainase dan sungai. Sementara pada musim kemarau, berkurangnya kemampuan kawasan menyimpan air, dapat menjadi persoalan tersendiri.

Dengan kata lain, pertumbuhan kota dapat meningkatkan kebutuhan air, sekaligus mengubah cara air bergerak.

Sungai Tidak Boleh Hanya Dipandang sebagai Saluran

Dalam menghadapi banjir, sungai sering kali dilihat sebagai tempat mengalirkan air sebanyak mungkin. Padahal, sungai merupakan bagian dari ekosistem yang lebih luas.

Sungai terhubung dengan daerah tangkapan air, rawa, lahan basah, saluran drainase, dan berbagai kawasan di sekitarnya. Perubahan pada satu bagian sistem dapat memengaruhi bagian lainnya.

Karena itu, pengelolaan Sungai Musi dan anak-anak sungainya, tidak seharusnya hanya berorientasi pada pengerukan atau memperbesar kapasitas aliran.

Upaya tersebut memang dapat diperlukan pada lokasi tertentu, tetapi harus menjadi bagian dari pendekatan yang lebih menyeluruh.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana air dari seluruh kawasan tangkapan, bergerak menuju sungai.

Jika limpasan dari kawasan perkotaan terus meningkat, sungai akan menerima beban yang semakin besar.

Kemarau Mengingatkan Kita pada Fungsi Ruang

Ketika musim kemarau datang, kita kembali berbicara tentang ketersediaan air.

Di sinilah fungsi kawasan resapan dan ruang penyimpan air menjadi penting.

Air hujan yang meresap ke tanah, dapat menjadi bagian dari cadangan air. Kawasan vegetasi, rawa, kolam retensi, ruang terbuka, dan berbagai bentuk penyimpanan air, dapat membantu memperpanjang keberadaan air dalam suatu wilayah.

Karena itu, ruang-ruang tersebut tidak boleh dianggap sebagai lahan yang tidak produktif.

Dalam perspektif pengelolaan air, ruang terbuka adalah bagian dari infrastruktur.

Ia mungkin tidak terlihat seperti jalan atau jembatan, tetapi memiliki fungsi penting bagi keberlanjutan kota.

Pembangunan Harus Memberikan Ruang bagi Air

Palembang membutuhkan pembangunan.

Namun, pembangunan yang baik bukan hanya pembangunan yang menghasilkan bangunan baru. Pembangunan yang baik juga mempertimbangkan kemampuan lingkungan untuk tetap berfungsi.

Setiap kawasan baru seharusnya memperhitungkan perubahan limpasan air.

Apakah ada cukup ruang resapan? Apakah tersedia fasilitas penampungan? Apakah kapasitas drainase memadai? Bagaimana dampaknya terhadap kawasan di sekitarnya?

Pertanyaan seperti ini perlu menjadi bagian dari perencanaan.

Dengan demikian, pembangunan tidak hanya memindahkan persoalan air dari satu kawasan ke kawasan lainnya.

Banjir dan Kekeringan Satu Masalah yang Sama

Palembang perlu melihat banjir dan kekeringan dalam satu kerangka.
Ketika hujan deras, kita ingin air segera pergi, agar tidak terjadi genangan. Tetapi ketika kemarau datang, kita membutuhkan air yang sebelumnya telah hilang.

Paradoks tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya terlalu banyak atau terlalu sedikit air.

Persoalannya adalah kapan, di mana, dan bagaimana air disimpan dan dialirkan.

Karena itu, kebijakan pengelolaan air perlu mengutamakan keseimbangan antara penyimpanan, infiltrasi, dan pengaliran.

Air hujan yang berlebih perlu dikendalikan, tetapi sebagian juga harus dipertahankan sebagai cadangan.

Saatnya Memikirkan Kota sebagai Satu Sistem Air

Pengelolaan Palembang tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah.

Drainase, sungai, rawa, kawasan permukiman, ruang terbuka, sumber air, dan kawasan pembangunan sebenarnya berada dalam satu sistem.

Ketika satu bagian berubah, bagian lain ikut terdampak.

Karena itu, pemerintah membutuhkan pendekatan berbasis wilayah tangkapan air, bukan hanya berdasarkan batas administratif.

Perguruan tinggi dapat membantu melalui penelitian hidrologi, pemodelan limpasan, pemetaan perubahan penggunaan lahan, dan analisis risiko banjir maupun kekeringan.

Dengan data tersebut, pembangunan dapat diarahkan agar tetap sejalan dengan kemampuan lingkungan.

Palembang dan Masa Depan Airnya

Palembang akan terus tumbuh.

Pertanyaannya bukan apakah pembangunan harus dihentikan, tetapi bagaimana pembangunan tersebut dilakukan tanpa membuat kota kehilangan kemampuan mengelola air.

Sungai Musi akan tetap menjadi bagian penting dari Palembang. Namun keberlanjutan sungai tidak hanya ditentukan oleh kondisi badan sungai itu sendiri. Ia juga ditentukan oleh bagaimana kawasan di sekitarnya memperlakukan air.

Kita membutuhkan kota yang mampu menahan sebagian air ketika hujan, mengalirkannya secara terkendali ketika berlebih, dan mempertahankan cadangan ketika kemarau.

Palembang tidak harus memilih antara pembangunan dan air. Yang dibutuhkan adalah pembangunan yang memahami air.

Jika prinsip tersebut mulai diterapkan sejak sekarang, pertumbuhan kota dapat berjalan tanpa mengorbankan ketahanan hidrologisnya.

Sebab pada akhirnya, masa depan Palembang bukan hanya tentang seberapa luas kota berkembang, tetapi juga tentang apakah Sungai Musi, tanah, dan seluruh sistem air di dalamnya masih mampu menopang kehidupan kota tersebut.

Ditulis oleh : Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., dosen pada Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera (ITERA).

Ruang Karya MusiNews.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *